Yang Berpulang

Yang Berpulang

Habibie wafat
Penulis: Naldo Helmys

Kematian adalah kiamat kecil. Ada kebahagiaan yang tercerabut. Sakit dan pilu. Terutama jika yang berpulang itu adalah kekasih. Habibie, eyang biasanya dia dipanggil oleh generasi milenial, tak lain adalah kekasih bangsa ini, yang kecintaannya terhadap bangsa dan negara ini tidak perlu dipertanyakan. Dia kembali ke hadirat sang Pencipta, dan bangsa pun berduka.

Semua tahu, Habibie adalah personifikasi dari kejeniusan. Sumbangsihnya dalam kemajuan ilmu pengetahuan, terutama aviasi, tak hanya melambungkan namanya sebagai ilmuan kelas dunia, tetapi juga sang nasionalis. Baginya, Indonesia mesti punya industri pesawat terbang sendiri, yang dapat menyatukan suku bangsa di tanah air yang dipisahkan oleh ribuan pulau. Tapi penemu teori retakan pada pesawat itu telah dikebumikan.

Beruntung lewat buku-bukunya serta peran apik yang dimainkan oleh Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari, generasi muda dapat meneladani kemurnian cintanya, baik kepada kekasih hati maupun bangsa dan tanah air. Dua film tentang Habibie, Habibie Ainun dan Rudy Habibie, telah menginspirasi banyak orang. Beliau dan Ibu Ainun adalah sebuah purwarupa bahwa cinta mungkin adalah penawar untuk bangsa ini, yang belakangan sedang mengidap penyakit kebencian.

Ilustrasi kematian. Dalam Qur’an, sangat mudah bagi Tuhan untuk membangkitkan yang mati maupun mematikan yang hidup (Sumber gambar: pixabay).

Hikmah Kematian

Kepergian Habibie adalah pelajaran, tentunya. Kematian seseorang tak lain adalah reungan bagi yang ditinggalkan. Bahwa pada akhirnya ruh akan berpisah dengan jasad dan segala kebanggaan duniawi. Semua agama percaya, kematian bukanlah akhir. Ia hanyalah transformasi menuju alam lain yang bisa lebih baik atau lebih buruk.

Jiwa akan dibangkitkan dan perjalanan panjang untuk mendekat kepada sang Ilahi akan dimulai. Tak perlu bersedih begitu larut. Semua yang meninggalkan kita, nyatanya tidak benar-benar pergi dalam hidup kita. Habibie, dan tokoh-tokoh lain yang berjasa bagi bangsa ini yang meninggalkan kita dalam tahun ini: Kiai Maimun Zubair, Ibu Ani Yudhoyono, atau Ustad Arifin Ilham, hanya berbeda alam saja dengan kita.

Sebagian manusia mungkin tidak mau diusik tentang kematian. Biarkan hidup berlalu tanpa ada rasa takut akan kematian. Namun, sebagian lain merasa berat menghadapinya. Ada perasaan ketidakpantasan untuk menginjak akhirat. Entah mungkin karena manusia tak luput dari dosa, atau tak siap membayangkan kengerian neraka.

Namun, Imam Al Ghazali menasehati, cara terbaik menghadapi kematian adalah dengan berserah diri. Apapun yang terjadi, terjadilah. Anggap itu sebagai keputusan yang terbaik dalam takdir umat manusia. Serta tak perlu pula merasa pesimis, walau sebetulnya manusia tidak siap untuk menanggung penderitaan berpisah dengan dunia. Kematian mesti dihadapi dengan optimis, sebab pada akhirnya, Tuhan akan menunjukan betapa pemurah diri-Nya di hadapan umat manusia yang mengharap kepada-Nya.

Ilustrasi perjalanan Yudhistira (kiri) mencapai moksa. Dia melewati Pegunungan Himalaya dengan hanya ditemani seekor anjing sebagai perwujudan dharma.

Kematian juga tidak lebih buruk daripada dunia. Sebab dunia tidak hadir dalam keadaan sempurna. Di dunia, manusia menghadapi berbagai ketidaksempurnaan. Beragam penderitaan tak terbendung. Namun, di akhirat, terutama di surga, ketika jiwa tidak lagi dibelenggu oleh badan, ketika jiwa tidak lagi dikekang oleh sifat-sifat hewani, kematian tampak seperti jalan spiritual yang membebaskan.

Dalam sebuah babak cerita Mahabharata, ada ilustrasi menarik soal ini. Ketika tugas duniawinya selesai, Yudhistira, pahlawan kebajikan, pergi menuju surga dengan melewati Pegunungan Himalaya. Sesampai di surga, dia tak bertemu dengan ibu dan saudara-saudaranya. Justru dia mendapati Duryodhana, musuhnya, sedang duduk di singgasana surga. Yudhistira protes. Bagaimana bisa si pelaku kejahatan itu ditampung oleh surga?

Namun, sebuah jawaban dari dewa datang, dan menegaskan bahwa di surga tidak ada lagi kebencian. Segala sifat jahat dan kebencian yang sebelumnya bersarang dalam dada Duryodhana sudah tidak tampak lagi ketika jiwa manusia memasuki surga. Tapi Yudhistira tidak mampu membaca itu karena dirinya masih memiliki jasad. Ruh dan tubuhnya belum berpisah, sehingga jiwanya belum mampu memahami hakikat kematian dan mengenali akhirat.

Pulang dengan Tenang

Kematian, pada hakikatnya, adalah berpulangnya jiwa kepada sang Pencipta. Kematian adalah kebebasan. Jiwa dalam bentuknya yang paling murni selalu ingin untuk mengingat sang Ilahi. Namun, kesibukan duniawi membelenggunya. Tanggung jawab kekuasaan mengaburkan pandangannya. Banyaknya harta benda dan nikmatnya kesehatan seringkali menjauhkan jiwa untuk melihat tanda-tanda kebesaran Tuhan di sekelilingnya. Ketika kematian datang, segala pembatas itu disingkirkan, sehingga di sanalah jiwa merasa merdeka. Jiwa yang tenang pulang kepada Tuhannya dalam keadaan lapang.

Sekilas, kematian tampak menyeramkan. Jiwa akan berjalan sendirian dalam kesepian, tanpa ditemani oleh keluarga dan orang terdekat. Namun, dalam bayangan sufi, perjalanan jiwa setelah kematian tidak akan pernah sendirian. Ada amal yang akan mendampingi. Seperti dalam syair lagu Opick, bila waktu telah berhenti, teman sejati tinggalah amal.

Begitu pula dalam babak Yudhistira di Himalaya dalam epos Mahabharata, bahwa dharma sematalah yang akan menemani perjalanan manusia menuju nirwana. Tak satupun yang menemani sang pangeran selain seekor anjing yang rupanya adalah perwujudan dari dharmanya. Amal atau dharma adalah teman yang paling setia, sebab selama manusia hidup, ia selalu tak pernah terpisahkan dari manusia. Ialah tugas manusia agar teman perjalanan itu nantinya menyenangkan.

Kematian adalah rahasia. Tak satupun manusia yang akan tahu kapan waktunya tiba. Nabi Muhammad menyatakan bahwa manusia yang paling cerdas adalah mereka yang dengan matang mempersiapkan perjalanan kematiannya. Namun, di balik rahasia itu, ada petunjuk untuk membukanya. Tanyalah ke dalam hati, renungkan sedalam mungkin, kira-kira apakah petunjuk itu? Jika telah menemukannya, biarkan dia tetap memandu jalan yang semakin berliku ini. Pada waktunya tiba, semua adalah yang terbaik dari yang baik.

Beritahu Temanmu
InternasionalisGroup

Leave a Reply