Sains yang Sakral

Sains yang Sakral

Penulis: Naldo Helmys

Sains modern identik dengan penalaran. Prosesnya melibatkan akal. Bahannya adalah bukti empiris, dapat terinderai. Buahnya adalah pengetahuan yang rasional. Sementara rasanya adalah sekuler. Meski penggambaran itu tak disepakati semua pihak, tapi itulah kira-kira pandangan sepintas Seyyed Hossein Nasr terhadap sains modern, yang menurutnya telah mengalami desakralisasi atau pengikisan dimensi batiniah. Sepanjang karirnya sebagai intelektual sekaligus sufi, Nasr menawarkan kepada dunia sacred science (sains yang sakral).

Nasr terbilang sufi Muslim kontemporer terkemuka. Dia lahir pada tahun 1933 di Tehran, hanya delapan tahun setelah Reza Shah mendirikan Dinasti Pahlavi, dinasti yang mengubah Iran menjadi negara modern. Modernitas adalah ciri khas masyarakat saat itu. Namun, keluarga Nasr dipandang tradisionalis. Ada kultur Persia dan Islam yang kental yang mereka pertahankan. Tak kurang itu berkat didikan sang ayah, Seyyed Valiallah (lahir 1871) yang juga seorang sufi tradisionalis.

Meski lahir di Iran, tetapi Nasr tumbuh di Amerika Serikat. Jangan heran. Amerika dulunya adalah mitra Iran, sebelum negara ini berganti haluan menganut ideologi islamis menyusul Revolusi Islam tahun 1979. Sang ayah kecelakaan, hingga Nasr terpaksa pindah ke New Jersey tak lama setelah Perang Dunia II “berakhir” pada 1945. Dia menimba ilmu di Sekolah Peddie, NJ, menjadi lulusan terbaik, hingga kemudian diterima kuliah di Massachusetts Institute of Technology (MIT) untuk belajar fisika.

Alih-alih menjadi fisikawan, Nasr muda justru mengalami krisis intelektual dan spiritual di MIT. Kondisi ini membuatnya tertarik untuk mendalami metafisika guna mengobati kekosongan rohani tersebut. Ialah ceramah-ceramah Giorgio di Santillana, filsuf Italia, tentang Dante yang mempengaruhinya. Dari sana, Nasr tertarik pada Hinduisme sehingga Giorgio merekomendasikan Rene Guenon kepadanya, yang menjadi pintu masuk baginya untuk lebih dalam kepada pemikiran Ananda Coomaraswamy dan Frithjof Schoun. Beruntung, ketika pindah ke Boston, Nasr bertemu Coomaraswamy yang mengizinkannya untuk memakai perpustakaan pribadinya. Ketika lulus dari MIT pada 1954, dia tak menjadi “sarjana” fisika, melainkan calon sufi besar yang berkecimpung pada metafisika.

Seyyed Hossein Nasr

Nasr kemudian masuk Harvard untuk belajar geologi dan geofisika dan mendapat gelar MA pada 1956. Namun, kemudian dia berkecimpung dengan sejarah sains dan studi Islam dengan belajar dari cendekiawan ternama seperti George Sarton, Harry Wolfson, Bernard Cohen, dan H.A.R. Gibb. Dia berkela ke Eropa, bertemu Schoun, Titur Burckhardt, Marco Pallis, dan Martin Lings, dan diinisiasi oleh ordo Sufi Shadhili, salah satu cabang Alawi, sebelum akhirnya meraih gelar PhD pada 1958.

Seyyed Hossein Nasr kemudian menjadi profesor di University of Tehran dan mengepalai beberapa institusi. Baik sebagai administrator maupun pengajar, Nasr telah mengembangkan suatu sistem pendidikan yang membangkitkan kembali nilai-nilai tradisional. Tentu saja usaha itu disertai oleh publikasi dengan kuantitas dan kualitas luar biasa. Tahun 1979, dia meninggalkan Iran, bukan untuk selamanya, melainkan hanya selama dua minggu. Namun, dia dan keluarganya terjebak di London. Tak tahu akan kemana, dia diundang ke Amerika untuk memberi ceramah di University of Utah. Alih-alih pulang, dia justru mengajar di Temple University, dan kemudian sejak 1984 hingga saat ini dipercaya sebagai University Professor di George Washington University.

Hidup Nasr mungkin jungkir balik, tak menetap dari satu negara ke negara lain, bukan karena alasan yang menyenangkan. Namun, di tengah kekacauan itu dia menemukan harmoni, mengganggap apa yang terjadi sebagai “hadiah dari Surga”. Justru di masa-masa sulit itulah dia mampu menghasilkan Knowledge and the Sacred (1981), yang menjelaskan secara komprehensif bangunan filsafatnya.

Seyyed Hossein Nasr mengenalkan sains sakral sebagai bentuk kritik terhadap ilmu pengetahuan modern. Sejak Renaissance, menurut Nasr, rasio telah dicerabut dari iman sehingga ilmu pengetahuan menjadi sekuler atau mengalami desakralisasi. Bahkan kondisi ini juga berimbas pada studi-studi agama yang kehilangan akar ruhaniahnya. Lewat ungkapan credo ut intelligam et intelligo ut credam, Nasr menegaskan iman dan ilmu tidak terpisahkan. Inilah yang menjadi prinsip utama dalam filsafat Nasr.

Istilah sacred science diambilnya dari bahasa Latin, scientia sacra. Lema ini dimaknai dalam dua hal yang tak terpisah: sebagai pengetahuan metafisika sekaligus prinsip metafisika yang diaplikasikan ke dalam realitas, baik makrokosmos maupun mikrokosmos, ataupun dunia alam maupun alam manusia. Artinya scientia sacra ini adalah prinsip kebenaran yang universal dan hadir di hati dalam bentuk penyingkapan; dengan kata lain prinsip ini menjadi jantung dari segala pengetahuan.

Nasr menyatakan sains sakral bukannya terpisah dari sains pada umumnya. Sebab ini memang sains yang mencoba menyibak dan menjelaskan fenomena-fenomena baik tentang alam maupun masyarakat, baik fisik maupun pikiran. Lalu, kenapa sains sakral dikatakan berbeda dengan sains pada umumnya? Tak lain karena sains sakral tetap berpijak kepada prinsip metafisika sementara sains modern saat ini telah diredusksi terbatas pada hal yang empiris dan rasional semata.

Meski berangkat dari filsafat dan kultur Islam, Nasr tidak mengartikan sains sakral sebagai bentuk Islamisasi pengetahuan. Benar bahwa keduanya sama-sama menjadi kritik terhadap keterpisahan dimensi lahiriah dengan batiniah dalam ilmu pengetahuan. Namun, sains sakral dibangun di atas filsafat perenial, mengedepankan esoterisisme (batiniah) ketimbang syariah, yang tidak hanya dapat ditemukan di dalam Islam semata, melainkan juga hadir dalam berbagai tradisi lain seperti Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, Konfusius, Taoisme, Majusi, atau Yunani Klasik.

Mengingat universalitas yang ditawarkan sains sakral, rasanya menarik untuk mempertimbangkan pemikiran ini lebih lanjut, terlebih ketika kehidupan manusia kian terotomasisasi. Di era android yang mengedepankan kecepatan dan keinstanan, tak heran akan muncul kekhawatiran pada akhirnya pendidikan atau sains itu sendiri hanya akan menghasilkan manusia robotik yang digerakan oleh “kecerdasan nir-makna” (meaningless intelligence) dan “kecerdasan nir-emosi” (emotionless intelligence). Mungkin di sinilah relevansi pemikiran Seyyed Hossein Nasr tentang sains sakral akan lebih berguna di masa mendatang.

Selain dalam Knowledge and the Sacred, pemikiran Nasr dapat dibaca dalam karya-karya lain. Di antaranya adalah Science and Civilization in Islam (1964), Islamic Science: An Illustrated Study (1976), Religion and the Order of Nature, Man and Nature (1987), dan The Need for a Sacred Science (1993). Tulisan yang lebih kontemporer dari Nasr misalnya The Garden of Truth (2007), Islam’s Mystical Tradition (2007), Islam in the Modern World (2010), dan In Search of the Sacred (2010). Selain itu, karya besarnya yang sangat penting ialah The Study Quran (2015) yang menghidupkan kembali kemuliaan Quran dari segi intelektual dan spiritualnya yang dialamatkan tidak hanya untuk umat Muslim, tetapi juga pembaca umum.

Beritahu Temanmu
InternasionalisGroup

Leave a Reply