Yang Berpulang

Habibie wafat
Penulis: Naldo Helmys

Kematian adalah kiamat kecil. Ada kebahagiaan yang tercerabut. Sakit dan pilu. Terutama jika yang berpulang itu adalah kekasih. Habibie, eyang biasanya dia dipanggil oleh generasi milenial, tak lain adalah kekasih bangsa ini, yang kecintaannya terhadap bangsa dan negara ini tidak perlu dipertanyakan. Dia kembali ke hadirat sang Pencipta, dan bangsa pun berduka.

Semua tahu, Habibie adalah personifikasi dari kejeniusan. Sumbangsihnya dalam kemajuan ilmu pengetahuan, terutama aviasi, tak hanya melambungkan namanya sebagai ilmuan kelas dunia, tetapi juga sang nasionalis. Baginya, Indonesia mesti punya industri pesawat terbang sendiri, yang dapat menyatukan suku bangsa di tanah air yang dipisahkan oleh ribuan pulau. Tapi penemu teori retakan pada pesawat itu telah dikebumikan.

Read More

Sains yang Sakral

Penulis: Naldo Helmys

Sains modern identik dengan penalaran. Prosesnya melibatkan akal. Bahannya adalah bukti empiris, dapat terinderai. Buahnya adalah pengetahuan yang rasional. Sementara rasanya adalah sekuler. Meski penggambaran itu tak disepakati semua pihak, tapi itulah kira-kira pandangan sepintas Seyyed Hossein Nasr terhadap sains modern, yang menurutnya telah mengalami desakralisasi atau pengikisan dimensi batiniah. Sepanjang karirnya sebagai intelektual sekaligus sufi, Nasr menawarkan kepada dunia sacred science (sains yang sakral).

Nasr terbilang sufi Muslim kontemporer terkemuka. Dia lahir pada tahun 1933 di Tehran, hanya delapan tahun setelah Reza Shah mendirikan Dinasti Pahlavi, dinasti yang mengubah Iran menjadi negara modern. Modernitas adalah ciri khas masyarakat saat itu. Namun, keluarga Nasr dipandang tradisionalis. Ada kultur Persia dan Islam yang kental yang mereka pertahankan. Tak kurang itu berkat didikan sang ayah, Seyyed Valiallah (lahir 1871) yang juga seorang sufi tradisionalis.

Read More