Terjemahan Qur’an Versi Rodwell: Pencarian Kemanusiaan

Internasionalis

Naldo Helmys

Usianya sudah lebih dari seratus tahun. Terbit Maret 1909 soalnya. Sampulnya cukup tebal, dengan hiasan dalam mencitrakan seorang yang tampaknya adalah perempuan, berjubah, membawa berbagai buah, dedaunan, dan kembang di tangan kanan, sembari tangan kirinya menggenggam sebuah perkamen. Citra itu ditampilkan lewat seni art nouveau yang mengagumkan.

Judul lengkapnya adalah The Koran Translated from the Arabic by the Rev: J. M. Rodwell M. A. Esai ini tidak membahas kualitas terjemahan Rodwell tersebut, melainkan berusaha menangkap sejauh mana dia dan tim yang terlibat bersamanya mengapresiasi Qur’an sebagai kitab yang amat penting dalam perkembangan kemanusiaan.

Read More

Revolusi Industri 4.0 dan Politik Global

Internasionalis

Revolusi Indrusti 4.0 mengusik. Dengannya, negara dipaksa beradaptasi dengan cara menemukan kembali dirinya, mencari jalan baru bagaimana berkolaborasi dengan warga negaranya sendiri dan juga dengan sektor swasta. Perubahan itu juga menentukan relasi hubungan antar negara.

Seolah tidak ada cara lain, jika negara ingin menyelenggarakan pemerintahan yang lebih baik, penggunaan teknologi digital harus diprioritaskan. E-governance disinyalir mampu memperkokoh struktur dan fungsi pemerintahan, agar lebih transparan dan akuntabel, serta mampu bertaut dengan warga.

Teknologi membuat kuasa terdistribusi. Negara mau tidak mau dituntut untuk mengakui bahwa saat ini kuasa aktor non-negara siap berperan lebih. Bahkan, kuasa digital itu bersifat mikro, dimana bahkan individu dengan penguasaan teknologi mampu memberi pengaruh. Namun, sejauh mana warga negara mampu bersuara di era digital? Barangkali bukannya tidak terbatas. Sebab, pada saat yang sama, otoritas pun mampu menggunakan teknologi pengawasan (surveillance) yang cukup mengganggu kebebasan publik.

Siapa negara yang akan menang nantinya? Barangkali, kesempatan itu bukan hanya pada negara dengan penguasaan teknologi tinggi, tetapi juga negara yang menguasai norma-norma internasional masa depan. Norma itu diterjemahkan dalam konteks ekonomi digital baru, yang ditandai dengan jaringan komunikasi 5G, penggunaan drone komersil, internet segala sesuatu, kesehatan digital, manufaktur tingkat tinggi dan lainnya.

Sebaliknya, negara yang hanya mempromosikan norma dan kebiasaannya yang hanya menguntungkan produsen domestik, sembari menghadang kompetitor luar negeri, dan adanya keengganan perusahaan domestik untuk mengeluarkan biaya terhadap teknologi dari luar, sangat beresiko terkungkung dari norma-norma global. Mereka adalah pencorot dalam ekonomi digital baru.

Ulasan tersebut hanyalah sebagian kecil dari analisis menarik dari Klaus Schwab dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Buku ini dipublikasikan oleh World Economic Forum pada 2016 silam. Selama tiga tahun, berbagai kemajuan mungkin telah terjadi, tetapi pola-pola yang diberikan Schwab tetap menarik untuk disimak.