Anarkisme, Akhir Sejarah, dan Kesendirian dalam Musik GY!BE

Anarkisme, Akhir Sejarah, dan Kesendirian dalam Musik GY!BE

Penulis: Falhan Hakiki

Godspeed You Black Emperor (disingkat GY!BE) merupakan band asal Montreal, Kanada, yang terdiri dari 9 orang. Mereka unik dan berbeda dari grup musik atau musisi lainnya. Musik mereka instrumental dengan genre post-rock bernuansa drone, space rock,  ambient, avant-garde,dan experimental, di samping adanya suara lengkingan gitar, biola, dan hentakan drum. Mereka bermain musik tanpa menggunakan lirik dengan alasan yang filosofis.

Mengutip wawancara Efrim Menuck, pentolan band ini, “Bahasa tak cukup mewakili ide-ide kami, bahasa memenjarakannya.” Kita yang telah terbiasa menganggap dengan bermusik dapat menyampaikan sebuah pesan dan terjebak ke dalam biner musik politis maupun tidak politis, GY!BE justru sebaliknya. Band ini membawa pesan dalam musiknya pada dunia yang kehilangan harapan dan harus diubah, di sisi lain mereka tidak berbicara kepada kita layaknya grup musik yang membawa pesan-pesan politis lainnya.

“Kesunyian dalam komposisi kami adalah sebuah jeda refleksi. Untuk merasakan dan menghargai suara. Suara-suara yang kami bangun dari titik nol, setelah kami membuat senyap, meruntuhkan dunia dalam beberapa menit.” Mereka juga menggambarkan diri mereka untuk tidak bermain netral di hadapan kebusukan dunia. “Kami musisi yang hanya bermain musik”. GY!BE merepresentasikan musik tidak lewat kata-kata. Karena pada dasarnya kata dapat menghambat gagasan, pesan, dan imajinasi.

GY!BE dalam bermusiknya dapat kita kaitkan dengan filsafat dan sosio-politik, lewat analisis terhadap pemikiran anarkisme ala Auguste Blanqui (1805-1881) dengan semboyan neither God nor Master; pemikiran Francis Fukuyama (lahir 1952) dalam tulisan the End of History; serta filsafat nihilis Nietzsche (1844-1900).

Anarkisme Blanqui

Berbicara pemikiran anarkisme Blanqui sendiri, pada slogan neither God or Master bahwa tidak ada satupun otoritas atau aturan yang boleh mengkooptasi manusia, sekalipun itu Tuhan atau tuan karena didasari kehendak manusia ialah untuk hidup bebas. Unsur ini hadir dalam etos GY!BE yang tidak seperti grup musik lainnya. Mereka bermain musik dengan menolak aturan-aturan yang telah dibentuk oleh industri musik, yang mana dengan cara ini mereka membentuk sebuah perlawanan totalitas yang telah menjadi mitologi dan tidak ada pernah satupun yang dilakukan oleh band punk politis manapun. Hal ini bekerja sedemikian rupa. Tentang apa, siapa, musik, dan segala hal yang ada di luar musik mereka lahir dan beredar, tetapi bukan mereka yang mengisahkan narasinya, justru orang lain. Selain itu, mereka mengkritik grup-grup musik dan industri musik lainnya yang terlalu kapitalistik, yang terdapat pada sebuah diagram yang digambar tangan pada isi sampul album mereka, Yanqui U.X.O.

Selanjutnya dalam band ini tidak ada vokalis. Tidak ada pemimpin, wawancara, band merch maupun sesi photo press. Dengan jumlah anggota 9 orang yang dapat dikatakan banyak, GY!BE mencoba memperlihatkan bahwa dari segi praktek, mereka menganut nilai-nilai anarkisme. Bagaimana mereka memperlihatkan sebuah grup musik dapat mengatur diri mereka tanpa adanya pimpinan. Dengan hasil akhir yang mereka keluarkan selama ini, pemahaman tentang anti-hirarki dan anti otoritarian bukan hanya terlihat memungkinkan saja, namun juga menarik. Selain itu, dalam penampilannya mereka juga harus jauh dari sponsor, keterlibatan korporasi, dan tetek bengek fandom seperti konfrensi pers, foto bersama, dan gimmick lainnya. Dan mereka juga mengkritik penghargaan dari Polaris Music pada tahun 2013 dengan pernyataan: “Organizing a gala just so musicians can compete against each other for a novelty-sized cheque doesn’t serve the cause of righteous music at all. Asking the Toyota motor company to help cover the tab for that gala, during a summer where the melting northern ice caps are live-streaming on the internet, IS F*****G INSANE…, well then maybe the next celebration should happen in a cruddier hall, without the corporate banners and culture overlords.”

Akhir Sejarah Fukuyama

Kemudian, permainan musik GY!BE juga mengingatkan akan tulisan Francis Fukuyama mengenai the End of History. Sejarah akan berakhir, bagi Fukuyama, ketika pertarungan ideologi dimenangkan oleh ideologi tertentu dan telah dilakukannya universalisasi dan penyeragaman ideologi tersebut ke berbagai belahan dunia. Ideologi itu sendiri, dalam tesis Fukuyama, ialah demokrasi liberal barat, yang mendominasi dan mendarah daging sejak berakhirnya Perang Dingin. GY!BE dengan musiknya menyisipkan pesan bagaimana kondisi dunia saat ini dengan konformitas atau penyeragaman yang telah terjadi. Cara mereka menyuarakan hal tersebut adalah dengan media instrumental, dimana pada bagian part-part lagu mereka, seperti The Dead Flag Blues dan We Drift Like Worried Fire terdapat sayup-sayup musik yang mengajak kita menuju kesendirian, sebagai bentuk kemuakan yang terjadi saat ini. Kemuakan tidak hanya atas penyeragaman berlandaskan demokrasi liberal barat dan ekonomi pasar bebas saja, namun juga penyeragaman-penyeragaman yang terjadi di sekitar kita, standar-standar yang diamini oleh masyarakat banyak yang membuat kita tunduk akan hal tersebut.

Kesendirian Nietzsche

GY!BE hadir untuk mengajak kita untuk lari dari konformitas itu. Seperti kisah Zarathusra dalam karya Nietzsche seperti berikut: “Larilah kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil. Hutan dan karang tahu benar bagaimana jadi membisu bersamamu. Jadilah engkau seperti pohon kembali, dengan tenang sepenuh hati ia menjulurkan dirinya ke laut. Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai, mulai pula lah riuh rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun. (Sabda Zarathustra, Nietzsche).

Kisah Zarathusra pada tulisan Nietzsche yang mengajak kita untuk lari menuju kesendirian, dan bukan kesunyian, cocok disematkan kepada GY!BE dengan memberikan makna “menghindari khalayak” dan “melakukan/menciptakan sesuatu.” Menghindari dan keluar dari penyeragaman mental kawanan dan gerombolan berbagai bentuk, mulai dari masifikasi atas nama pasar, politik, agama, dan lain-lain, hingga kita mampu menemukan kesendiran untuk menuju kepada penciptaan. Kesendirian bukan berarti hendak mengisolasi dan menutup diri dari persentuhan dengan yang bukan kita. Hal itu sebaliknya, dalam metafor Nietzsche, menjadi bagian yang menyatu kepada “hutan dan karang” serupa dahan yang menjulur ke laut. GY!BE melakukannya sebagai bentuk menghampiri dunia bukan untuk menguasai.

Band ini tentunya mengajarkan banyak hal. Dari cara mereka bermusik dalam menghindari penggunaan gimmick-gimmick seperti band dan musisi lainnya, serta etos anarkisme yang mengajarkan untuk tidak tenggelam dalam sebuah penyeragaman demi mengejar sebuah pengakuan di hadapan yang lain. Selain itu, refleksi lainnya ialah bahwa kita selalu mempertanyakan dan melawan status quo yang hadir di tengah-tengah kita. Bagaimana konstruksi sosial, politik, dan agama di tengah-tengah masyarakat yang telah mengalami penyeragaman, misalnya. Hal itu harus kita pertanyakan dan lawan, dengan lari menuju kesendirian agar terciptanya sesuatu yang baru, yang kita dapat mandiri dan tidak tergantung dengan nilai-nilai penyeragaman.

Beritahu Temanmu
InternasionalisGroup

Leave a Reply